Catatan Pementasan “Tangga” Komunitas Seni Hitam-Putih Padangpanjang

NASRUL AZWAR

Pada Pentas Seni II Tahun 2002 yang diselenggarakan Dewan Kesenian Sumatra Barat, Teater Eksperimental KPDTI Fakultas Sastra Unand hadir dengan pertunjukan berjudul “Jenjang”, karya dan sutradara Prel T.

Saat itu, Prel T mengatakan, “Jenjang” digarap dengan konsep eksperimen yang difokuskan adalah teknik estetis pertunjukan. Seluruh pengadegan didominasi oleh konsep fungsional. Pembentukan set di samping bersifat statis, juga dinamis. Maka dengan sendirinya set dibentuk melalui pembentukan adegan. Sentral performance adalah ruang (bukan bidang). Seluruhnya memanfaatkan sejumlah jenjang (dalam berbagai ukuran) sebagai properti utama.

Pertunjukan Teater Eksperimental KPDTI itu telah lewat 5 tahun lalu. Saat itu, saya mencatat, pertunjukan “Jenjang” berhasil dalam konsep eksperimental, tapi gagap dalam penyampaian isi dan pemeranan. Sehingga yang terlihat di atas panggung adalah seperti seorang khatib menyampaikan kutbahnya. Idealnya sebuah pertunjukan teater, tentu, keduanya—konsep garapan dan pemeranan—sebuah yang inheren dan terintegrasi. Keduanya mesti sama-sama diperjuangkan.

Pekan terakhir Juli lalu, 21 Juli dan 27 Juli 2007 di Kota Padang Panjang dan Padang, publik teater disuguhkan dengan pertunjukan teater yang juga eksperimentatif dalam garapannya, yakni pertunjukan teater berjudul “Tangga” yang dipentaskan oleh Komunitas Seni Hitam-Putih Padangpanjang, sutradara Yusril.

Dari informasi yang diperoleh, “Tangga” bersumber dari dua karya dari penulis yang berbeda, yaitu puisi “Tangga” karya penyair Iyut Fitra dan naskah drama “Jenjang” karya Prel T. Inti dari cerita seputar sistem kekuasaan di Minangkabau yang bersumber dari ideologi Datuk Katumanggungan (Koto Piliang) yang lebih cenderung feodalistik dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang (Bodi Caniago) yang mengarah demokratis dan egaliter. Kedua ideologi itu tidak dimaknai dikotomis oleh masyarakat Minangkabau, tapi lebih pada tataran sinergitas.

Pementasan “Tangga” mengesankan kehendak untuk menyampaikan hal demikian. Maka, muncullah kalimat-kalimat yang keluar dari mulut tokoh-tokoh di atas pentas, seperti bajanjang naik batanggo turun (berjenjang naik bertangga turun), duduak sahamparan, tagak sapamatang (duduk sehamparan dan berdiri sepematang), indak kayu janjang dikapiang (tiada kayu jenjang dikeping) lah jatuah diimpik janjang (sudah jatuh tertimpa tangga), dan lain sebagainya yang merupakan idiom-idiom sosial yang sangat akrab dengan masyarakat Minangkabau.

Malam itu “Tangga” dibangun menjadi situs atau lokasi dalam sebuah ruang yang dikonstruksi secara sosial dengan simbolisasi yang relevansinya kadang lepas. Tokoh-tokoh yang niridentitas diberi beban yang cukup rumit dan rijit untuk memanifestasikan makna-makna simbolik dalam sebuah ruang yang sarat dengan kehendak, keinginan, dan juga ambisi, yang akhirnya semua tak terkendali dan tak fokus. Pementasan “Tangga”, malam itu, 27 Juli 2007 di Taman Budaya Sumatra Barat, seperti kehilangan konsentrasinya dan melupakan basis yang sebenarnya telah jadi kekuatan Komunitas Hitam-Putih selama ini, yakni eksploratif dan semiotif visual. Dan saya membandingkan ini dengan pertunjukan sebelumnya, yaitu “Menunggu” dan “Pintu”, sekadar menyebut contoh saja.

Praktik-praktik pemaknaan atau aktivitas penciptaan makna yang selama ini demikian kaya hadir dalam setiap garapan Komunitas Seni Hitam-Putih, seolah tak saya jumpai lagi di “Tangga”. “Tangga” seperti sebuah antiklimaks perjalanan teater kelompok ini. Dalam catatan saya, dan ini bisa diperdebatkan kembali, bahwa Komunitas Seni Hitam-Putih terasa kurang pas bermain dalam tema-tema yang terkait dengan tradisi kultur Minangkabau, dan mereka sepertinya mesti belajar lebih banyak terkait dengan Minangkabau.

Namun demikian, selama ini, sesungguhnya, kelompok ini telah menemukan bentuknya dalam ranah eksploratif dengan tema kontemporer yang universal, dan isu-isu posmodern. Dan gaya ini sesungguhnya telah terbangun sejak berdirinya kelompok ini tahun 1996.

Sepanjang hampir satu jam pertunjukan “Tangga” dengan penjejalan tubuh-tubuh aktor, yang katanya fungsional sebagai properti pentas dan fungsionalisasi propereti tangga (yang jumlah sama banyak dengan aktor, yaitu 8 (delapan), tentu memberi warna lain dalam perkembangan teater di Sumatra Barat. Paling tidak, konsepsi garapan dan bentuk pemanggungan, bagi saya memang berbeda dengan kelompok-kelompok teater lainnya. Kekuatan estetik dengan konsepsi yang membuka kemungkinan-kemungkinan tafsir di atas pentas, adalah kelebihan “Tangga”, tapi—seperti disebut sebelumnya—gagap dalam pemeranan.

Delapan buah tangga yang diusung masing-masing pemain, seperti videp klip yang menghadirkan penggalan-penggalan peristiwa: tangga kadang dikonstruksi sebagai alat untuk meraih kekuasaan, bangunan penjara kekuasaan, alat penindas bagi penguasa, menara kekuasaan, pembatas kekuasaan, jembatan untuk berkuasa, beban kekuasaan, keranda mayat akibat kekuasaan, dan sebagainya.

Dengan mengenakan busana merah, depalan orang dan delapan jenjang, yang sukar diidentifikasi emosionalnya karena mamang ke delapan orang yang ada di pentas itu niridentitas: Mereka tak punya titik simpul dalam tataran sosial. Maka, hal itu tak mungkin dilakukan. Mengurai identitas delapan tokoh-tokoh itu sama saja dengan mereduksi dalam struktur sosial yang stabil. Mereka bukan berada dalam regularitas sosial dengan memakai pola-pola sosial yang mapan. Mereka adalah representasi sosial yang cenderung resistensif terhadap tatanan yang sosial.

Maka, semua dialog yang muncul di atas pentas, seperti sebuah bunyi-bunyian. Bunyi-bunyian yang dimanifestasikan dalam beragam gerak dan konstruksi simbol-simbol. Simbol yang dibangun pun kadang bertolak belakang dengan ucapan tokoh. Kata-kata hanya merupakan teriakan di tengah galaunya sistem sosial dan kekuasaan.

Sehingga, content yang susungguhnya tak perlu lagi secara verbal disampaikan aktor, menjadi kehilangan maknanya. Ucapan-ucapan yang dikeluarkan dari mulut aktor, menjadi artifisial. Kadang, dialog atau kalimat yang melompat itu, kontradiktif dengan bangunan “peristiwa” teater yang sedang berlangsung di atas pentas. Dalam tradisi Minangkabau, pepatah bajanjang naik batanggo tidak dimaknai secara verbal dan artifisial dengan melakukan gerak turun naik tangga, tetapi lebih kepada mekanisme dan regulasi dalam mengambil keputusan yang bijaksana. Di “Tangga” aktor melakukan gerak turun naik tangga dengan sangat verbalistik.

Gerak, yang tampaknya banyak dikolaborasikan dengan koreografi, terlihat tak mampu mempertegas maknawi teks yang sastrawai itu. Tokoh-tokoh, karena demikian banyak beban “Tangga” yang ingin disampaikan, tampak lelah. Penggunaan bahasa dalam rentang satu jam itu, mengesankan seperti bukan berasal dari hubungan antarkata yang kompleks, dan bukan berangkat dari karakteristik tokoh-tokoh yang hakiki. Makna kata dan kalimat dialog tokoh-tokoh tidak menemukan relasional dan kontekstualnya. Ada yang lepas antara simbol yang dikontruksi dengan ucapan tokoh.

Maka, beberapa aspek yang sangat perlu didiskusikan lebih lanjut adalah persoalan aktor dan pemahaman naskah itu sendiri. Proses teater bukan semata menuju pada bentuk pertunjukan, tapi, teater juga terkait dengan sejauh mana pemahaman aktor dan juga elemen lain (musik, pencahayaan, dan juga penasihat spiritual Komunitas Seni Hitam-Putih) terhadap tema-tema yang digarap.

Pada “Tangga” saya menjumpai bagaimana aktor kurang demikian akrab dengan apa yang disebut dengan simbol-simbol dan kalimat-kalimat penuh filosofi yang dijadikan basis garapan Komunitas Seni Hitam Putih. Dan kasus serupa juga terjadi saat Teater Eksperimental KPDTI Fakultas Sastra Unand mementaskan “Jenjang”, kendati untuk menghadirkan simbolisasi, memang lebih kaya Yusril.

Tapi, sisi yang menarik adalah pemanfaatan dan eksplorasi panggung yang dilakukan Yusril cukup inovatif: Pentas bisa saja hadir di dinding panggung dan samping panggung. Apa yang dikatakan dengan “meruang” tampak menemukan realitasnya. Gaya demikian tentu dimaknai sebagai suatu praktik pemaknaan yang melibatkan objek-objek (tangga dan ruang pentas) dalam kaitannya untuk membangun semiotika visual sebagai tanda kultural.

Selain itu pula, satu hal yang juga menarik, saya melihat pertunjukan ini sukses dari sisi penonton, lebih kurang 200-an penonton memenuhi Teater Utama Taman Budaya Sumatra Barat, malam itu. Tapi, saya juga bertanya-tanya, apakah penonton nyaman menikmati pertunjukan itu? Semoga saja. ***

dari httw.kompas

DI Sumbar, pembikinan film ini merebak sampai mana-mana, menusuk sampai ke daerah yang permai, Payakumbuh. Di daerah yang antusiasmenya terhadap sastra sangat tinggi ini, puisi kini diangkat ke film, seperti film Musim Kematian Bunga produksi Komunitas Seni Intro Payakumbuh. Film ini didukung para seniman/ penyair seperti Iyut Fitra, Dian Prima Warta, Adek Roro Wulan Rastika, Topan Dewi Gugat, Fira Susanti, dan lain-lain. Musim Kematian Bunga yang disutradarai Yusril SS hanya salah satu, dari karya-karya lain seperti Malin Kundang Milenium (Alwi Karmena), Mendayung Biduk Tiris (Drs M Yusuf H Mum), Surau (Syahindra Buana), Teror (Yanuar GN), dan masih banyak lagi.
Mereka terhitung serius. Berbagai diskusi atas karya-karya tersebut digelar, antara lain di Taman Budaya Provinsi Sumbar, di kampus Universitas Bung Hatta, dan di Universitas Andalas. Aktivitas ikutannya, berupa dibentuknya Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Artis Sinetron Indonesia (Parsi) bulan Juni lalu. Kepengurusan itu dilantik oleh artis Anwar Fuady yang setia memakai baju merk Versace.
Atau di Batam, ketika dua anak muda yang juga dikenal sebagai wartawan harian Lantang, Moch Ryan Djatnika dan Tarmizi hendak membikin film yang berkisah tentang tenggelamnya nasib nelayan dalam judul Tenggelam, ternyata dukungan masyarakat setempat begitu besar. Katanya, dari sumbangan masyarakat terkumpul Rp 25 juta untuk membikin film ini.
“Kami tak mengira, respons dari pemerintah maupun masyarakat begitu kuat mendorong kami untuk berkarya. Bagi kami, dukungan dari masyarakat jauh lebih penting ketimbang film yang kami buat. Uang itu kami gunakan untuk membiayai film termasuk honor dan uang transportasi para pemain,” ungkap Tarmizi.
Segala keterbatasan prasarana agaknya diharapkan melahirkan “keajaiban”. Tiga mahasiswa Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Sumatera Utara, Aap, Cici, Ida, ingin mengkonkretkan cita-cita mereka membuat film. Maka, mereka pun membuat film bertema psikologis, Jiwa Terpasung.
“Waktu ngambil adegan berangkat ke luar negeri, diam-diam kita masuk ke Bandara Polonia di terminal keberangkatan luar negeri. Untuk mengambil suara pesawatnya dan merekam gambar pesawat saat take off, terpaksa aku harus berdiri di atas kap mobil Cici yang panasnya minta ampun. Hasilnya lumayan. Selain kaki terbakar, suaranya juga bisa terekam…” kata Firman, yang bertugas sebagai juru kamera.
Di Bandung, sekelompok anak muda yang menyebut diri mereka Safers (singkatan Sarekat Felem Mekers) berencana membuat film berjudul Episode IV yang akan mereka produksi tahun depan. “Kalian tahu enggak apa yang kudu kita cari? Orang paling gendut se-Bandung,” kata Ervin, salah satu dari kelompok itu. Mereka membikin film, tambahnya, “Sebelum kami mencapai hidup yang mapan, menjadi pegawai negeri yang tiap
hari naik vespa ke kantor dan punya keluarga yang menunggu di rumah mungil dengan kebun bunga.”

MUSIM KEMATIAN BUNGA:

Asril Muchtar

Malam itu cuaca begitu cerah. Tanda-tanda itu sudah kelihatan sejak siang hingga sore harinya. Langit biru. Tak tampak seonggok awan pun menggantung di angkasa. Padahal beberapa hari sebelumnya Padang diguyur hujan. Inilah barangkali keberpihakan alam kepada Yusril “Katil”, teaterawan dan sineas muda Sumatra Barat, yang juga dosen STSI Padangpanjang. Pada malam (25/6/2006), ia menayangkan karya filmnya, “Musim Kematian Bunga” di Teater Tertutup Taman Budaya Padang. Gedung yang tidak begitu besar itu, dipenuhi oleh kalangan seniman terutama, dan oleh sejumlah mahasiswa. Juga turut hadir Prof Dr Rahayu Supanggah dan Dr Waridi, yang bertindak sebagai penguji. Film ini memang disiapkan sebagai tugas akhir Studi S2 Penciptaan Film di STSI Surakarta. Sebelum penayangan film, terlebih dulu diawali dengan pembacaan puisi “Musim Kematian Bunga” oleh Iyut Fitra dan Risa yang sangat ekspresif sekali. Secara tidak langsung keduanya telah menjadi simbol personifikasi “musim” dan “bunga”.

Film ini merupakan transformasi dari puisi dengan judul yang sama, “Musim Kematian Bunga”, karya Iyut Fitra, penyair Indonesia yang berasal dari Payakumbuh Sumatra Barat. Puisi itu bercerita tentang cinta seorang penyair terhadap seorang perempuan yang berbeda kepercayaan (Islam dan Kristen). Perbedaan ini akhirnya menjadi konflik, dan menyebabkan keduanya menjadi berpisah dan tidak bahagia. Musim dan bunga dalam realitasnya adalah dua entitas alam. Bunga bergantung pada ruang dan waktu (pergantian musim). Tetapi puisi itu diinterpretasikan kembali oleh Katil. Konflik tidak hanya pada perbedaan keyakinan, tetapi juga pada realitas sosial. Pergaulan dalam lingkungan Minangkabau, dewasa ini disinyalir tidak lagi mencerminkan budaya Minangkabau.

Musim diperankan oleh Wendi (alumni jurusan teater ISI Yogyakarta). Ia berperan sebagai seorang penyair Sumatra Barat yang islami. Sementara Bunga diperankan oleh Reni Candra, mahasiswa jurusan tari STSI Padangpanjang. Reni memerankan tokoh Bunga yang kristiani, modern, dan berpenampilan orang kota. Dengan latar belakang penari, tokoh Bunga dimunculkan sebagai seorang koreografer, yang berpentas di berbagai tempat dan event, khususnya di Taman Budaya Padang.

Dalam menunjang kreativitas kepenyairannya, Musim membentuk komunitas sastra yang menekuni penulisan puisi, dan bermain teater. Salah seorang anggotanya Hati, yang diperankan oleh Nora mahasiswa jurusan musik STSI Padangpanjang, sangat tekun mendalami puisi. Nora, secara diam-diam ternyata menaruh simpati yang dalam terhadap Musim, tetapi Musim meresponnya sebatas muridnya saja. Pemunculan identitas koreografer dan Hati, merupakan pengembangan naskah dari teks asli puisi oleh Katil.

Pertemuan Musim dan Bunga yang cukup berkesan, saat Bunga pentas tunggal koreografinya di Taman Budaya Padang. Kepiawaian Bunga menari dan keelokan koreografinya, memberikan decak kagum bagi Musim. Usai pentas, Musim mendekati Bunga dan memberikan ucapan selamat, sembari mengucapkan kata-kata yang penuh puitis dan filosofis. Ungkapan ini menggugah perasaan Bunga, sehingga berlanjut pada diskusi-diskusi yang makin intens di antara mereka.

Pertemuan mereka ini hampir tidak menyisakan waktu buat Hati. Hati seperti kehilangan sesuatu, tetapi ia tidak mau mengungkapkannya. Kekecewaan, kerinduan, dan kesedihannya sering diungkapkannya melalui puisi dan bermain harmonika dengan melodi yang sentimental. Itu ia lakukan berulangkali, sepanjang suasana hatinya tidak nyaman.

Musim dan Bunga makin bersemi. Laksana kuncup bermekaran di musim semi. Ketika situasi ini mereka nikmati, justru benturan-benturan mulai muncul. Hubungan Bunga dengan Musim diketahui oleh bapaknya. Bunga dilarang berhubungan dengan Musim, karena tidak seiman. Sementara Musim mulai goyah dengan identitasnya yang islami dan Minangkabau. Komunitasnya mencium gelagat Musim, tapi apa daya ia sudah terlanjur jatuh cinta pada Bunga.

Akibat tidak konsisten dengan pendirian dan sikap masing-masing, pilihan mereka ternyata berakibat fatal. Kepenyairan Musim ditinggalkan teman dan sahabatnya. Pentas baca puisinya tidak lagi ditonton. Ia menjadi frustasi dalam kesendiriannya dan meninggal dengan tragis. Sementara Bunga, yang minggat dari orang tua atas kekecewaannya, pergi tidak tentu arah. Menggelandang kian kemari. Ia kehilangan jati diri sebagai seorang koreografer, dan frustrasi dalam ketidakberdayaan. Hati dengan ketegaran hatinya, meneruskan karirnya sebagai penulis puisi.

Film yang berdurasi sekitar 80 menit ini, mengambil setting lokasi Payakumbuh, Bukittinggi, Padangpanjang, dan Padang (Taman Budaya). Untuk kalangan masyarakat awam, film ini memang absurd sekali. Film, sebagaimana lazimnya bersifat naratif. Dialog-dialog yang dibangun bersifat natural dan realis, dalam bahasa keseharian. Tidak sulit untuk dipahami. Berbeda dengan film Musim Kematian Bunga, dialog-dialog yang disampaikan oleh aktor dan aktrisnya sangat puitis. Sedikit sekali yang disampaikan dalam bahasa yang natural dan realis. Memang konsep inilah yang ditawarkan oleh Katil.

Sebagaimana ia katakan: “Puisi diciptakan dalam suasana perasaan intens yang menuntut pengucapan jiwa yang spontan dan padat. Menghadapi puisi, kita tidak hanya berhadapan dengan unsur kebahasaan yang meliputi serangkaian kata-kata indah, namun merupakan satu kesatuan bentuk pemikiran atau struktur makna yang hendak diucapkan oleh penyair.” Simbol-simbol yang terdapat dalam puisi adalah pada kata-kata. Melalui film ini, Katil mencoba menvisualisasikan dan mempersonifikasikan simbol-simbol itu dalam bahasa gambar. Namun dalam penggarapannya, ia tetap mempertahankan unsur-unsur pengucapan puisi. Disadari bahwa cara ini berakibat, terjadi sesuatu yang tidak natural dan realis.

Secara keseluruhan film ini tentunya juga memiliki sisi lemahnya. Ilustrasi musik yang agak keras, kadang-kadang dominan sekali, terasa sangat mengganggu. Bahkan kehadiran musik pada beberapa adegan, mengalahkan dialog, sehingga dialog antar pemain tidak jelas didengar. Barangkali, sebaiknya tidak semua bagian atau adegan diisi dengan musik secara penuh. Adakalanya musik dimulai dengan feed-in, dan diakhiri dengan feed-out. Tetapi ini memang disadari oleh Katil dan Cholis sebagai penata musik, bahwa pencapaian dan penempatan musik belum maksimal.

Khusus pada editing, pencahayaan, dan ketajaman gambar, Katil hanya terkendala pada peralatan yang digunakan. Amat sulit mencari peralatan yang standar untuk syuting dan proses editing film di Sumatra Barat. Sebagai seorang sineas, secara teknis ia hampir tidak mengalami masalah, kecuali hanya pada peralatan yang digunakan. Selamat Katil. Kalau tidak keliru, Anda adalah orang pertama Magister Film di Indonesia produk perguruan tinggi Indonesia.

Padangpanjang, 4 Juli 2006

Asril Muchtar

Pengajar STSI Padangpanjang

MENUJU TANGGA KEKUASAAN:

Asril Muchtar

di timur matahari akan terbit

kawanan orang-orang bergerombolan itu bertemu pendakian, kita, setumpak pencarian gaduh dalam zikir. tasbih air mata menuju langit, puncak dari waktu

terjemahkanlah, wahai, beku batu-batu. siapa memancang istana di udara jauh memancang singgasana di tinggi labirin

dan kawanan orang-orang bergerombolan, kita, saling sikut berebut tempat

mencari arah matahari. atau di mana bulan jatuh

“sorga” kau dengar sayat itu?

gelombang nada membakar tanah-tanah. meluap darah

di padang-padang hampar. kitalah para penunggang berpedang

menebas jalan-jalan

menebas harapan

di timur matahari akan terbit

di timur matahari akan terbit

Sepenggal petikan puisi Tangga di atas, yang ditulis oleh Iyut Fitra, penyair yang berdomisili di kota Payakumbuh, Sumatra Barat ini, menjadi teks-teks dialog para pemain dalam pertunjukan teater karya Yusril “Katil”. Karya Dengan judul yang sama, Tangga, ini merupakan karya kolaboratif yang melibat seniman teater, tari, dan musik dari STSI Padangpanjang serta penyair Sumatra Barat. Gagasan karya terispirasi dari percaturan kekuasaan dengan bingkai “demokrasi” ala Minangkabau ditafsir dengan situasi kekinian yang lebih universal. Akting dan gerakan para pemain merupakan kombinasi eksplorasi gerak (tarian) yang ditata oleh Syaiful Erman (STSI) dengan tata laku yang diarahkan langsung oleh Katil sebagai sutradara, sedangkan ilustrasi musik dikomandani oleh Elizar Koto (STSI).

Ini merupakan karya teater eksploratif, yang sangat sarat dengan simbol, tetapi minim kata-kata, mengusung sembilan buah tangga sebagai propertinya. Karya yang melibatkan sembilan pemain yang terdiri dari tiga orang penari dan enam orang pemain teater, telah dipentaskan di gedung pertunjukan Hoerijah Adam STSI Padangpanjang, 13/11/2007. Dan juga dipentaskan pada Festival Kesenian Indonesia (FKI) V di ISI Denpasar pada 21-25 November 2007.

Eksplorasi Tangga

Paling tidak ada delapan konfigurasi-formasi atau “adegan” yang disajikan dalam karya ini. Formasi awal ditandai dengan pemunculan penari laki-laki (Cecep) dengan kostum Minang (ala datuk) menari dengan gerak-gerak eksloratif berbasis silat, sambil memikul tangga sepanjang tiga setengah meter di sisi kiri depan pentas. Ia kemudian memindahkan tangga itu ke punggungnya sambil membungkuk. Sementara di bagian tengah depan pentas, Sarah (Ayu Shahira, mahasiswa STSI asal Kuala Lumpur) dengan kostum merah menyala, melakukan gerak-gerak eksplorasi dengan ruang gerak yang cenderung lebar. Ketika melihat Cecep membaringkan tangga di punggungnya, Sarah berlari dan naik sembari berbaring menelentang di atas tangga itu. Di bawah cahaya lampu yang redup dan musik yang lirih, Cecep terhuyung-huyung melakukan berbagai gerakan dan diakhiri dengan gerakan berputar-putar. Tak sepatah kata pun dialog yang muncul dari mereka. Bagian ini semacam satire bagi perempuan Minangkabau yang dimuliakan, tapi berkuasa seperti wanita besi.

Selanjutnya sembilan tangga disandarkan berjejer di dinding pentas bagian belakang. Diperkuat dengan latar visual art, semua pemain dengan kostum merah, berdiri di puncak tangga, kemudian perlahan-lahan mereka menuruni anak tangga. Beberapa penggal kata mereka ucapkan dengan minim. Kemudian mereka menapaki setiap anak tangga untuk turun dan naik serta berpindah dari satu tangga ke tangga yang lain dengan intensitas kian lama makin cepat. Perebutan tempat ini, memunculkan benturan kepentingan, bahkan juga fisik–saling menyikut. Agaknya dialog lebih terekspresikan melalui simbol movement mereka, ketimbang bahasa verbal. Perjuangan mencari tangga (kendaraan) menuju tangga kekuasaan, mesti dilakukan dengan berbagai cara.

Bagian yang cukup menarik dicatat agaknya konfigurasi-formasi tiga dan empat. Katil mencoba menonjolkan perempuan di atas “singgasana kekuasaan.” Eksplorasi enam buah tangga yang ditegakkan dengan membentuk formasi tiga buah segi tiga sama kaki berjejer diagonal ke kiri pentas. Masing-masing tangga dipegang oleh seorang pemain. Sementara pemain (Indah) menaiki tangga, mulai dari tangga belakang sampai ke tangga depan. Di puncak tangga ia berdiri mengepakkan tangan dan melakukan gerak-gerak ekplorasi sambil mengucapkan teks-teks singkat.

Dengan formasi tangga yang dibentuk seperti menara, seorang penari (Rani) menaiki tangga dan berdiri di puncaknya. Gerak-geraknya cukup berani dan menantang (bahaya). Kemudian ia meluncur turun masuk dalam “perangkap” menara. Tangga direbahkan, ia teperangkap dan terikat dalam tangga. Tak ada sepatah kata pun yang terucap.

Lewat kedua tokoh perempuan itu, agaknya Katil menyindir demokrasi ala Minangkabau dan sistem kekerabatan matrilineal yang memuliakan dan menonjolkan perempuan. Dalam konteks kekinian dan dikaitkan dengan sistem laras bodi caniago (Ketumanggungan) yang memakai keputusan berdasarkan musyawarah di tingkat bawah, dan koto piliang (Perpatih Nan Sabatang) yang menerapkan keputusan berada di tinggkat pimpinan), sudah tidak dianut lagi secara tegas terpisah oleh masyarakat Minangkabau.

Yang tak kalah menarik adalah eksplorasi yang dilakukan oleh seluruh pemain dengan mengusung tangga menjelajahi setiap lini pentas. Mereka berlari mencari ruang kosong dan mengisinya silih berganti. Tampak ketegangan dan kesembrautan berpadu dengan ekspresi menyeringai di wajah mereka. Eksplorasi ini dilanjutkan dengan menghentakkan tangga ke lantai sambil membentuk lingkaran. Seolah-olah mereka terkerangkeng dalam jeruji medium mencari kekuasaan. Lalu mereka menjatuhkan tangga masing-masing ke lantai. Tampak bagaikan kelopak-kelopak bunga berguguran.

Tergerusnya Budaya

Sebagai penutup, eksplorasi tangga seperti membentuk replika rumah gadang. Dengan latar belakang visual art yang digarap oleh Dede Pramayoza, para pemain duduk dan berdiri di atas dan di bawah rumah gadang. Sarah menuruni tangga dengan eksplorasi-eksplorasi gerak yang dipadu dengan beberapa gerak tari piring tradisi Minang. Ia bergerak ke depan di atas dua buah tangga yang direbahkan memanjang ke arah depan. Sementara di tengah tangga itu terletak sebuah carano sebagai simbol ketulusan hati dan pendamai dalam berbagai kegiatan adat di Minangkabau. Carano yang biasanya diisi dengan daun sirih dan buah pinang, kali ini diganti dengan ratusan permen, diangkat oleh Sarah dan dibagi-bagikannya kepada para penonton. Ini benar-benar sebuah simbol tergerusnya budaya oleh berbagai kepentingan (terutama politik).

Karya yang berdurasi sekitar 55 menit ini, sejatinya memiliki etika konvensional. Seperti ungkapan “bajanjang naiak batanggo turun”. Segala sesuatunya sudah ada aturan dan tata caranya. Akan tetapi benturan muncul ketika situasi kekinian tidak lagi tertampung dalam koridor adat. Bagaimanapun Katil dan kawan-kawan telah menyajikan sebuah penawaran sajian teater kolaborasi yang berimbang (Gong, edisi 96/2007).

(Untuk mempresentasikan itu, Katil lebih memilih bahasa simbolik melalui eksplorasi gerak, musik, dan tangga yang bersifat multi tafsir serta memberikan makna lebih luas, ketimbang bahasa verbal. Meskipun ia sebenarnya sudah berupaya menghadirkan penggalan kata atau kalimat. Tetapi itupun masih perlu ditafsir karena teks verbal yang muncul berasal dari puisi. Akhirnya teks dialog sering diabaikan oleh penonton. Katil bahkan sengaja memilah peran pemain. Kepada para penari misalnya, sedapat mungkin mereka tidak diberi kesempatan berkata-kata. Sebagai sebuah pertunjukan, Katil dan kawan-kawan telah menyajikan sebuah penawaran sajian teater kolaborasi yang telah berimbang).

Padangpanjang, 19 November 2007

Asril Muchtar

Staf Pengajar STSI Padangpanjang, pemerhati seni pertunjukan

HP: 08126788215

Menggugat Demokrasi Minangkabau

Oleh Sahrul N

dengarlah, kusampaikan padamu sebaris kisah di sebuah gunung merapi yang dulu sebesar telur itik, lama setelahnya, dari dua lelaki seibu berbeda ayah lahirlah sistem bernama laras dua lelaki yang berbeda pikiran, orang menyebutnya koto piliang dan bodi caniago berjenjang naik, bertangga turun dan duduk sehamparan, tegak sepematang bagai lukisan perdamaian”

Dialog demokrasi tak bernama inilah yang diusung dalam pementasan teater yang berjudul “Tangga” sutradara Yusril dari Komunitas Seni Hitam Putih Padangpanjang Sumatra Barat. Pementasan yang berdurasi sekitar satu jam ini ditampilkan di STSI Padangpanjang tanggal 21 Juli 2007 dan di Taman Budaya Sumatra Barat pada tanggal 27 Juli 2007. Karya seni teater ini terinspirasi dari dua karya sebelumnya yaitu puisi “Tangga” karya Iyut Fitra dan naskah drama “Jenjang” karya Prel T.

Berjenjang naik, bertangga turun, merupakan sistem pemerintahan di Minangkabau yang dicanangkan oleh Datuk Katumanggungan atau yang lebih dikenal dengan kelarasan Koto Piliang. Sistem ini memakai pola top down atau segala sesuatunya ditentukan oleh pemimpin kekuasaan. Seperti dialgog “hitam kataku hitam, putih kataku putih”. Suau keputusan yang tidak lagi bisa diganggu gugat.

Berbeda halnya dengan kata-kata Duduk sehamparan, tegak sepematang, yang merupakan kata-kata dalam sistem pemerintahan di Minangkabau yang dicanangkan oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang atau yang lebih dikenal dengan kelarasan Bodi Caniago. Sistem ini memakai pola segala sesuatunya ditentukan oleh musyawarah dan mufakat.

Kedua sistem ini tumbuh dan berjalan dalam waktu yang sama dari dulu sampai sekarang. Masyarakat Minangkabau tidak mempersoalkan perbedaan diantara keduanya, tetapi mengkolaborasikan keduanya atau berjalan beriringan dan saling membantu. Dua sistem yang bertolak belakang namun saling membantu menimbulkan pertanyaan, demokrasi apakah yang yakini oleh masyarakat Minangkabau?

Kolaborasi sistem pemerintahan ini diwujudkan dalam bentuk teater kontemporer dengan konsep akting distorsi dimana tubuh tidak lagi menjadi tubuh yang sebenarnya. Tubuh aktor adalah tubuh tanpa jenis kelamin, dia bisa menjadi tubuh sosial, tubuh budaya, tubuh akrobatik, tubuh tak terhingga dan tubuh ikonitas. Tubuh ini menciptakan ruang makna yang beragam dalam diri masing-masing aktor. Keinginan untuk setiap bagian tubuh bicara banyak makna merupakan hal yang sangat menentukan. Namun sayang, dialog puitis yang menjadi arah peristiwa kadang-kadang diucapkan oleh aktor tanpa tendensi makna, sehingga kata tersebut berlalu begitu saja.

Lewat bantuan properti tangga yang jumlahnya sebanyak jumlah aktor (delapan), pencarian ekspresi tidak dalam bentuk datar namun meruang ke segala arah. Lantai pentas bisa ada dimana-mana, tidak hanya horizontal namun juga vertikal. Properti dari kayu ini menciptakan ruang makna yang tak terhingga dan diekplorasi sedemikian rupa menjadi ikon-ikon yang menupang ikon-ikon tubuh aktor. Tangga bisa menjadi pentas itu sendiri, bisa juga menjadi penjara, menara, pembatas, jembatan, beban, keranda, dan sebagainya. Akan tetapi pencarian eksplorasi properti ini pada bagian-bagian tertentu bisa menjadi verbal dan tanpa ikonitas.

Begitu juga dengan peristiwa yang diambil dari mitos Minangkabau ini hanya sebagai alat untuk mengungkap sesuatu yang lebih universal. Peristiwa demokrasi tanpa judul ini diaktualisakan dengan demokrasi secara menyeluruh yang ada di bumi ini. Peristiwa perang dengan segala akibatnya dan penjajahan peradaban oleh negara maju terhadap negara berkembang dan terbelakang, menjadi sorotan kemanusiaan karya ini. Bisa dilihat dalam dialog “di timur matahari akan terbit” bisa menjadi indikasi bahwa ada perlawanan keras terhadap hegemoni barat.

Ikon-ikon Minangkabau menjadi referensi penting dalam pertunjukan ini. Gerakan silat, bahasa, carano (tempat sirih) dan lain-lain dalam seluruh peristiwa adalah ikatan tematik yang coba dipertahankan oleh sutradara dalam rangka memadukan struktur. Boleh saja bicara lokal, namun makna yang ingin disampaikan tidak lagi lokal. Hal ini merupakan upaya untuk pencarian makna yang melampaui realitas.

Pembesaran makna dari peristiwa mitologi Minangkabau ini, kadangkala membuyarkan identitas persoalan yang sebenarnya. Klip-klip peristiwa memang diusahakan semaksimal mungkin memiliki hubungan struktur yang padu, akan tetapi sering pula terputus. Atau memang ini yang diinginkan Yusril? Sesuatu yang seluruhnya distorsi? ***

Sahrul N., S.S., M.Si., adalah dosen Jurusan Teater STSI Padangpanjang.

Iyut Fitra

TANGGA

di timur matahari akan terbit

kawanan orang-orang bergerombol itu bertemu pendakian, kita, setumpak pencarian

gaduh dalam zikir. tasbih airmata menuju langit, puncak dari waktu

terjemahkanlah, wahai, beku batu-batu. siapa memancang istana di udara jauh

memancang singgasana di tinggi labirin

dan kawanan orang-orang bergerombol, kita, saling sikut berebut tempat

mencari arah matahari. atau di mana bulan jatuh

“sorga!” kau dengar sayat itu?

gelombang nada membakar tanah-tanah. meluap darah

di padang-padang hampar. kitalah para penunggang berpedang

menebas jalan-jalan

menebas harapan

kemudian terlantun sepantun dendang; berjenjang naik, bertangga turun

orang-orang, (dan juga kita) bersikejar naik turun mencari-cari

bahkan saling membakar sebelum segala kembali gelap

di manakah matahari itu?

bergelisahan orang-orang terus menuju. menebaskan pedang-pedang

pada satu cahaya yang jauh. o, tahta!

ada yang terbujur lalu. ada yang terbelintang patah

sementara nasib demi nasib terus saja dibantai entah atas nama apa

-tangga!

Kau dan saya tak tahan pada perih,

lalu menanjaki cobaan selanjutnya

untuk meneduhkan hasrat dari kuyup.

Tetapi kau dan saya

menjadi jenuh pada nyaman.

Di mana setiap lelah, putus-asa

dapat kau baringkan di setiap ruang.

Oh…, ketenangan!

Ternyata ketenangan juga merindu keperihan.

Lantas kau kembali menuruni jenjang

dan mencari pilu untuk disimpan.

Mengapa kau dan saya

tak rela kedatangan cemas, sebelumnya?*)

-o, tidak! keperihan tak menuruni jenjang

luka menerjang naik menghujam hari. melupakan hati

kau lihat orang-orang mengorbankan langkah dan darah

berselendang nafsu mereka berburu ke pintu-pintu. melewati tangga-tangga

tak hirau pada cemas dan naas. mengorbankan diri juga negeri

untuk kedamaian


-tangga!

-mengapa harus tangga?

-jalan menuju tahta!

-untuk siapa?

-kita!

-juga mereka!

-o, cakrawala kekuasaan. betapa telah kau ciptakan semesta dukalara

kami adalah orang-orang kehilangan dalam mencari

orang yang tak mengerti lagi tentang arti

di singgasana bertahta mahkota. di tebing demokrasi dianjungkan

sekian juta di antara kita larut dalam salut. sebagiannya mengasah pedang

ingin merampasnya. kau lihat barisan penunggang itu telah mencapai batas?

napasnya haus. dan negeri akan tenggelam

dalam dendam

-tangga!

wahai, orang-orang yang mencari tangga. naiklah!

proklamirkan perdamaian pada burung-burung bangkai di langit sebelum mendung turun

sebelum darah menjadi sungai-sungai kematian

yang akan menidurkan anak-anak kita

di timur matahari akan terbit

maka kawanan orang-orang bergerombol itu, kita, seolah-olah menyembah

ketika waktu berhenti mati

serak mayat. ibu-ibu di pengungsian. atau kanak-kanak yang kehilangan tepian

adakah mereka, adakah kita pernah menghitungnya

selain tangis yang kita simpan di meja makan

dan perjalanan yang terus menuju pendakian

lalu dendang itu terus; berjenjang naik, bertangga turun

naik turun yang membangun perisai di tiap detik merasai

orang-orang, kita, mencoba mengukuhkan diri atas sesuatu yang tak pasti

di manakah matahari?

di mana hidup dapat ditahankan bila setiap saat orang-orang berlagu tentang

kekuasaan

-dengarlah, kusampaikan padamu sebaris kisah

di sebuah gunung merapi yang dulu sebesar telur itik, lama setelahnya, dari dua lelaki seibu

berbeda ayah lahirlah sistem bernama laras

dua lelaki yang berbeda pikiran. orang menyebutnya koto piliang dan bodi caniago**)

berjenjang naik, bertangga turun dan duduk sehamparan, tegak sepematang

bagai lukisan perdamaian

dari dua simpang yang bersilang. cairlah kata sepakat

dalam kurun dan musim. dalam waktu-waktu lalu

orang-orang bernyanyi di tepian. bersenandung di halaman

inilah matahari! inilah matahari!

mereka menjerit-jerit di antara lumbung-lumbung dan padi

berlarian di sawah-sawah basah

tapi siapa yang menetaskan peradaban?

hingga kisahku kini legenda. tangga-tangga putih menjelma lintasan ke kekuasaan

orang-orang mengusungnya ke mana pergi di keliling pedang-pedang

para penunggang pun lahir dari demokrasi yang silam

kenangan,

negeri ini tak lebih kenangan!


-lalu ke mana ke dua lelaki itu?

-pulang ke gunung merapi

-adakah sesuatu yang mereka tinggalkan?

-kenangan!

-siapa yang menyimpan?

-orang-orang, dan kita!

tapi tak ada lagi yang mampu menetaskannya

kita kalah oleh waktu. kita kalah oleh birahi yang menggeliat setiap hari

kita tak lebih dari gerombolan penunggang berpedang yang memburu

tangga-tangga tak bermakna


-tangga!

-ya, kita butuh tangga!

-kita harus naik dan mencari damai yang pernah

-tanpa darah!

-darah?

-tanpa kematian!

di timur matahari akan terbit

kawanan orang-orang bergerombol itu, kita, siapa yang masih menyimpan kenangan

sesilam damai yang lampau. jalan-jalan ke tepian yang aman

keris hanya ditikamkan ke batu

dan salam diulurkan dalam mufakat

tapi mereka, kawanan orang-orang bergerombol, kita, hanya mengadukan luka pada ciuman

pada zikir dan tasbih airmata. sebab di sepanjang tangga pesta itu berlangsung

orang-orang terus membangun sumur

bagi darah-darah, dan kematiannya sendiri

di timur matahari akan terbit

kawanan orang-orang bergerombol itu, kita, terus melanjutkan pendakian

mencari matahari

Payakumbuh, April 2007

Catatan: *) Dikutip dari puisi Feni Efendi yang juga berjudul Tangga.

**) Sistem pemerintahan di Minangkabau.

FOTO PEMENTASAN

TAK ADA SABTU SAMPAI MINGGU, HANYA SIANG DAN MALAM

  • Kalender

    • September 2016
      S S R K J S M
      « Jun    
       1234
      567891011
      12131415161718
      19202122232425
      2627282930  
  • Cari